Kamis, 24 September 2009

HAMKA - Dibawah lindungan Kaabah



Ada kesan khusus saat pertama melihat novel ini, novel ini begitu tipis. Sehingga pernah berpikir jangan-jangan salah beli. Judul novel ini memang sudah lama saya dengar dari guru Bahasa Indonesia saya, tapi baru bisa beli saat kuliah, maklum susah didapat mencarinya pun dengan perjuangan.

Novel ini mempunyai tema yang sama dengan judul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yaitu kasih tak sampai, dengan pengarang yang sama pula tentunya yaitu Buya Hamka. Dalam novel ini Buya Hamka kembali menggunakan pesona kata-kata yang luar biasa, sehingga kesan novel yang tipis tidak ada lagi yang ada kekaguman oleh novel ini. Budaya minang masih sangat lekat dengan novel ini, digambarkan begitu apik.

Tokoh-tokoh :
Hamid : pemuda yang berbudi luhur dan taat beraga. Ia adalah seorang anak yatim dari sebuah keluarga miskin. Ia diangkat anak oleh Haji Jafar.

Haji Jafar : seorang saudagar kaya raya yang berhati mulia.
Asiah: istri Haji Jafar. Ia sangat berbudi luhur.
Zaenab: anak gadis Haji Jafar. Ia adalah gadis yang berhati mulia, taat kepada kedua orang tuanya, dan selalu menjalankan perintah agama.

Rosna: teman sepermainan dan sahabat kental Zaenab. Dia juga berbudi luhur dan taat kepada ajaran agama.
Saleh: sahabat karib Hamid yang berbudi luhur dan taat beragama. Dialah suami Rosna.

Ringkasan Cerita :
(dengan membaca ini,berarti telah mengetahui isi cerita)

Hamid adalah seorang anak yatim yang miskin. Dia diangkat anak oleh keluarga Haji Jafar yang kaya raya. Perhatian Haji Jafar dan istrinya, Aisah, terhadap pemuda itu sangat baik. Mereka menganggap Hamid seperti anak mereka sendiri. Mereka sangat menyayanginya sebab pemuda itu sangat rajin, sopan, berbudi luhur, dan taat beragama. Mereka juga menyekolahkan Hamid di sekolah rendah bersama-sama anak kandung mereka, Zaenab

Hamid telah menganggap Zaenab sebagai adik kandungnya sendiri. Ia sangat menyayangi gadis itu dan selalu berusaha melindunginya. Begitu pula halnya dengan Zaenab. Ia pun menganggap Hamid seperti kakak kandungnya. Ia banyak menggunakan waktunya untuk bersama-sama dengan Hamid. Karena bersekolah ditempat yang sama, keduanya sering pergi dan bermain bersama. Ketika mereka beranjak remaja, dalam hati mereka mulai tumbuh perasaan lain, suatu perasaan yang belum mereka rasakan sebelumnya. Hamid merasa bahwa rasa sayang terhadap Zaenab bukan lagi perasaan sayang kepada adiknya. Demikian pula halnya dengan Zaenab.

Setelah tamat dari sekolah rendah, Hamid melanjutkan sekolah ke Padang Panjang, sedangkan Zaenab tidak melanjutkan sekolahnya. Pada masa tersbut, wanita yang telah menamatkan sekolah rendah tidak boleh meneruskan sekolahnya. Mereka dipingit oleh orang tuanya untuk kemudian dinikahkan dengan pilihan orang tuanya. Demikian dengan Zaenab, ia pun dipingit oleh kedua orang tuanya. Maka, dengan berat hati, Hamid menigglakna gadis itu.

Selama di Padang Panjang, pemuda itu semakin menyadari perasaan cintanya terhadap Zaenab. Perasaan rindu hendak bertemu dengan gadis itu semakin hari semakin menyiksa dirinya. Ia ingin selalu berada didekatnya. Namun, ia tidak berani mengutarakan perasaan hatinya. Ia menyadari adanya jurang pemisah yang sangat dalam diantara mereka. Zaenab berasal dari keluarga berada dan terpandang, sedangkan dia hanya berasal dati keluarga miskin. Itulah sebabnya, rasa cinta yang bergelora terhadap Zaenab hanya dipendam saja.

Hamid benar-benar harus menguburkan perasaan cintanya kepada Zaenab ketika Haji Jafar, ayah Zaenab yang sekaligus ayah angkatnya, meninggal dunia. Tidak lama kemudian , ibu kandungnya pun meninggal dunia. betapa pilu hatinya ditinglakan oleh kedua orang yang sangat dicintainya. Kini dia merasa hidup sebatang kara. Ia merasa tidak lebih sebagai pemuda yatim piatu yang miskin. Sejak kematian ayah angkatnya, Hamid tidak dapat menemui Zaenab lagi karena gadis itu telah dipingit ketat oleh mamaknya.

Hati Hamid semakin ahncur ketika ia mengetahui bahwa mamaknya, Asiah, akan menjodohkan Zaenab dengan seorang pemuda yang memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhum ayah angkatnya. Bahkan, Mak Asiah menyuruh Hamid untuk membujuk Zaenab agar gadis itu menerima pemuda pilihan ibunya sebagai calon suaminya. Betapa hancur hati Hamid menerima kenyataan itu. Cinta kasihnya kepada gadis pujaan hatinya tidak akan pernah tercapai.

Dengan berat hati, Hamid menuruti kehendak Mak Asiah. Dia menemui Zaenab dan membujuk gadis itu agar menerima pamuda pilihan mamaknya. Menerima kenyataan tersebut, hati Zaenab menjadi sangat sedih. Dalam hatinya, ia ingin menolak kehenadak mamaknya, namun ia tidak mampu melakukakanya. Maka, dengan sangat terpaksa,ia menerima pemuda pilihan orang tuanya.

Setelah kajadian itu, Hamid memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia tidak sanggup menanggung beban yang begitu berat. Iyulah sebabnya, dia meninggalkan Zaenab dan pergi ke Medan. Sesampainya di Medan, dia menulis surat kepada Zaenab. Dalam suratnya, dia mencurahkan isi hatinya kepada gadis itu. Dari Medan, Hamid melanjutkan perjalanan menuju Singapura. kemudian , dia pergi ke tanah suci Mekkah.

Betapa sedih dan hancurnya hati Zaenab ketika ia menerima surat dari Hamid. Gadis itu merasa tersiksa karena ia pun mencintai Hamid. Ia sangat merindukan pemuda itu. Namun, ia harus melupakan cintanya karena mamaknya telah menjodohkan dirinya dengan pemuda lain. Karena selalu dirundung kesedihan, Zaenab menjadi sering sakit-sakitan dan ia kehilangan semangat hidupnya.

Sementara itu, Hamid pun selalu dirundung kegelisahan karena menahan beban rindunya pada Zaenab. Untuk menghapus kerinduannya, dia bekerja pada sebuah penginapan milik seorang syekh. Sambil bekerja, dia terus memperdalam ilmu agam islam dengan tekun.

Setelah setahun berada di Mekkah, Hamid bertemu dengan dengan Saleh, seorang teman kampungnya yang akan melaksanakan ibadah Haji. Ketika itu Saleh menjadi tamu di penginapan tempat Hamid bekerja. Istri Saleh, Rosna adalah teman dekat Zaenab sehingga Hamid dapat mendengar kabar tentang Zaenab. Dari penuturan Saleh, dia mengatahui bahwa Zaenab pun mencintai dirinya. Sejak kepergiannya, gadis itu sering sakit-sakitan. Ia sangat menderita batin keran ia menanggung rindu kepadanya. Ia juga mengetahui bahwa gadis itu tidak jadi menikah dengan pemuda pilihan ibunya karena suatu alasan.

Mendengar penuturan Saleh, Hamid merasa sedih dan gembira. Dia sedih sebab Zaenab dalam keadaan menderita batin. Di lainpihak; ia gembira sebab gadis itu mencintai dirinya. Artinya, dia tidak bertepuk sebelah tangan. Selain itu, Zaenab akan menjadi miliknya karena gadis itu tidak jadi menikah dengan pemuda pilihan mamaknya. Setelah mengetahui kenyataan yang menggembirakan ini itu, Hamid memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah ia menunaikan ibadah haji.

Sementara itu, Saleh mengirim surat kepada istrinya yang isinya mengabarkan pertemuannya dengan Hamid. Ia menceritakan bahwa Hamid masih menantikan Zaenab, dan ia pun memberitahukan bahwa hamid akan pulang ke kampung halamannya bila mereka telah menunaikan ibadah haji.

Rosna memberikan surat dari Saleh kepada Zaenab. Ketika membaca surat itu, betapa gembiranya hati Zaenab. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan kekasih hatinya. Ia merasa tak sabar lagi menanti kedatangan kekasih hatinya. Segala kenangan indah bersama pemuda itu kembali menari-nari dalam pikirannya. Semua perasaannya itu ia ungkapkan melalui suratnya kepada Hamid.

Hamid menerima surat Zaenab dengan suka cita. Semangatnya untuk segera kembali ke kampung semakin mengegebu-gebu. Dia sangat merindukan kekasihnya. Itulah sebabnya, diamemaksakan diri untuk menunaikan ibadah haji sekalipun dalam keadaan sakit. Dia menjalankan setiap tahap yang wajib dilaksanakan untuk kesucian dan kemurnian ibadah haji dengan penuh semangat. Dalam keadaan sakit parah, ia tetap melaksanakan wukuf. Namun sepulang melakukan wukuf di Padang Arafah, kondisi tubuhnya semakin melemah.

Pada saat yang sama, Saleh mendapat kabar buruk dari istrinya bahwa Zaenab telah meninggal dunia. Ia tidak memberitahuka kepada hamid karena keadaan pemuda itu sangat sakit parah. Namun, Hamid mendesaknya untuk menceritakan surat tersebut.

Hati Hamid sangat terpukul mendengar kenyataan itu. Namun karena keimanannya kuat, dia mampu menerima kenyataan pahit itu dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Keesokan harinya, dia tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Mina. Namun, dalam perjalanannya, dia terjatuh, sehingga Saleh mengupah orang Baduy untuk memapahnya.

Setelah acara di Mina, keduanya berangkat menuju Masjidil Haram. Ketika mereka selesai mengelilingi Ka’bah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah. Sambil memegang Kiswah itu , ia mengucapkan.” Ya, Rabbi, ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang” beberapa kali. Suaranya semakin melemah dan akhirnya berhenti selama-lamanya. Hamid telah meninggal dunia di hadapan Ka’bah, rumah Allah, dan ia akan menuju kesana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar